Musik Sunda

Seni musik atau seni karawitan mempunyai elemen dasar yaitu bunyi atsau suara. Bunyi itu kemudian dibedakan dengan adanya sebuah nada. Nada adalah bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi yang bergetar dan memiliki frekuensi yang teratur.[1] Dari nada inilah maka disusun suatu urutan suara/bunyi yang getaran, jarak dan jumlah yang teratur, urutan suara disebut laras atau tangga nada.[2] Misalnya tangga nada di Eropa/Barat memilik tujuh nada pokok yang disebut diatonis. Sedangkan di Sunda hanya memiliki lima nada pokok maka disebut pentatonis. Laras ini disusun dari bunyi yang tinggi ke bunyi yang rendah, dengan system penulisan seperti ini: 1 (da), 2 (mi), 3 (na), 4 (ti), 5 (la). Kesimpulannya, laras itu adalah susunan nada yang tertentu jumlah dan jaraknya.[3]

Serupa dengan tangga nada Barat, laras Sunda terdiri dari satu gembyang atau oktav. Dalam tangga nada diatonis, oktav dapat dilihat dari ‘c’ ke nada ‘C’ atau dari ‘a’ ke ‘A’. begitu juga dengan laras dalam seni karawitan, misalnya di Sunda, dari ‘da’ rendah sampai ‘da’ tinggi itu disebut satu oktav atau dalam istilah karawitan disebut satu gembyang.


[2] H. Iwan Natapradja, Sekar Gending – Bahasan Karawitan Sunda (Bandung: PT Putra Galuh Pakuan, 2003), 9.

[3] Ibid. 10

Advertisements

One thought on “Musik Sunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s